Postingan

Entri yang Diunggulkan

MENGENAL ALLAH

Di dalam kitab Mafatih al-Jinan, Syaikh Abbas al-Qummi menulis sebuah ungkapan doa yang kuranglebih artinya begini: 
“Ya Allah, perkenalkanlah daku kepada Diri-Mu, karena bila Engkau tidak memperkenalkanku kepada Diri-Mu, maka bagaimana daku bisa mengenal utusan-Mu. Ya Allah perkenalkanlah daku kepada utusan-Mu agar daku bisa mengenal hujjah-Mu. Ya Allah, perkenalkanlah daku kepada hujjah-Mu agar aku dapat mengenal petunjuk agama-Mu.”

Pengenalan kepada Tuhan adalah langkah pertama dan utama dilakukan oleh hamba agar dapat beragama secara benar. Dalam ungkapan doa di atas, setelah memanjatkan permemohon agar dapat mengenal Tuhan, maka pada tahap seterusnya seorang hamba memanjatkan permohonan mengenal utusan (rasul), mengenal hujjah, dan baru mengenal agama kemudian. Hal ini sejalan dengan ungkapan “awaluddin makrifatullah” awal agama ialah mengenal Allah. Mengenal Allah dalam bahasa agama diistilahkan dengan ma’rifah.

Secara etimologi, ma’rifah berarti pengetahuan atau pengenala…

Agar Rezki Penuh Keberkahan

Betapa sering kita mengucapkan, mendengar, mendambakan dan berdo’a untuk mendapatkan keberkahan, baik dalam umur, keluarga, usaha, maupun dalam harta benda dan lain-lain. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan keberkahan itu? Dan bagaimana untuk memperolehnya?

Awal dan Akhir dari Sebuah Pencarian

Tulisan ini saya edit dari tugas mahasiswa saya di Pascasarjana IAIN Antasari, berisi sebuah renungan sufistik yang cukup mendalam terinspirasi dari sebuah novel karangan Ibn Tufail tentang pencarian Tuhan oleh seorang anak manusia tanpa campur tangan persepsi. Novel itu berjudul Hay bin Yaqzhan.

Hayyân ibn Yaqzhân adalah seorang anak manusia yang terdampar disebuah hutan rimba, dia tumbuh besar bersama dengan aneka flora dan fauna yang ada di hutan, Hayyân ibn Yaqzhân tidak mengenal makhluk yang sepertinya dihutan, karena ia adalah satu-satunya manusia yang ada di hutan itu.

Pandangan al-Qur'an tentang Pihak Lain

Sebelum al-Qur’ân turun sebagai wahyu Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW, keadaan masyarakat tempat al-Qur’ân turun sudah memeluk beberapa agama dan/atau kepercayaan. Disamping agama Samawi dengan nabi yang jelas, Yahudi dan Nasrani, juga ada kepercayaan lain, seperti, Shâbi’în dan Majusi, ditambah lagi diantara mereka ada yang tidak bertuhan dan yang bertuhan banyak, yang oleh al-Qur’an disebut Kuffâr dan Musyrikûn.

Aktualisasi Diri dalam Tasawuf

Para intelektual muslim umumnya sepakat, bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai dimensi ganda (doble dimension) yakni dimensi ruhani dan jasmani, yang lahir dalam keadaan fitrhar. Fithrah maksudnya bukan sekedar bersih dari noda, namun dilengkapi dengan seperangkat potensi kodrati yang bersifat spiritual. Dengan potensi inilah manusia diberi kepercayaan untuk menjadi khalifah fil ardl yang memerankan fungsi-fungsi ketuhanan di muka bumi ini.



Jika manusia di dalam dirinya telah terkandung potensi kebaikan, keluhuran atau kesempurnaan sebagai bekal khalifah di bumi, lalu bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan dan diaktualisasikan? Banyak teori yang berbicara mengenai hal ini, baik dalam wacana tasawuf maupun psikologi.

Salah satu di antaranya adalah buku yang ditulis oleh Hasyim Muhammad. Tulisan ini merupakan sebuah karya yang mencoba melakukan terobosan baru dengan mengkombinasikan jawaban antara tasawuf dan psikologi secara bersamaan. Menurutnya, selama ini discourse anta…

Kontroversi Dalil Nisfu Sya'ban

Dalil-dalil yang diperselisihkan oleh para ulama tentang level keshahihannya itu antara lain sebagaimana yang dibedah oleh Dr. Fuad Tohari adalah hadits-hadits berikut ini:

"إن الله عز وجل ينزل إلى السماء الدنيا ليلة النصف من شعبان فيغفر لأكثر من شَعْرِ غَنَمِ بني كلب، وهي قبيلة  فيها غنم كثير"رواه أحمد والطبراني.وقال الترمذي: إن البخاري ضعفه

Sesungguhnya Allah 'Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nisfu sya'ban dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu kabilah yang punya banyak kambing). (HR At-Tabarani dan Ahmad) Namun Al-Imam At-Tirmizy menyatakan bahwa riwayat ini didhaifkan oleh Al-Bukhari. Selain hadits di atas, juga ada hadits lainnya yang meski tidak sampai derajat shahih, namun oleh para ulama diterima juga.

عائشة ـ رضي الله عنها ـ قام رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ من الليل فصلى فأطال السجود حتى ظننت أنه قد قُبِضَ، فَلَمَّا رفع رأسه من السجود وفرغ من صلاته قال, "يا عائشة ـ أو يا حُميراء ـ ظننت أن النب…

Nenek Pemungut Daun

Gambar
“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak secara benar saya lakukan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhir tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad saw. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat keatas Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

Alkisah, dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung kota itu. Ia berwudhu, masuk ke masjid, dan menunaikan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berciciran.

Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu helai pun ia lepaskan. Tentu agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal, terik matahari Madura …

Generasi yang Selamat berkat Rahmat Allah