Tataplah segala hal dengan kacamata iman. Cepat atau lambat kita akan mengerti bahwa “rangkaian peristiwa adalah jala yang ditebarkan Allah untuk menjaring manusia memasuki hadirat SuciNya”. Meleburlah dlm taqdir Allah niscaya engkau akan sampai kepadaNya.
Saudaraku…
Perjalanan hidup kita memperlihatkan ada hal-hal yang bisa kita ubah dan ada pula yang meskipun kita sudah berusaha, namun tetap tidak pula bisa kita ubah. Orang yang sama sekali tidak bisa berhitung misalnya, dapat mahir dan terampil mengolah angka dengan matematika, orang yang sakit bisa sehat karena berobat, orang yang miskin dan menjadi beban orang lain pun bisa menjadi orang yang mandiri melalui kerja keras. Tetapi dapatkah kita menghidupkan kembali orang mati yang sudah menjadi tanah? Mengubah nasi yang sudah menjadi bubur untuk menjadi nasi kembali? Mengubah orang tua renta menjadi bayi kembali? Sebenarnya, kebahagiaan hidup lahir bukan pada kemampuan untuk mebuat hal-hal yang tidak pasti menjadi pasti, tetapi kebahagiaan itu lahir dari benarnya cara pandang, sikap, dan perilaku dalam suasana yang serba tidak pasti.
Kegagalan atau keberhasilan adalah hal lumrah dalam hidup ini. Tetapi berlebih-lebihan menyesali kegagalan dan larut dalam kesedihan justru merupakan satu bentuk kegagalan yang lebih besar lagi, yaitu gagal mengendalikan diri.
Hidup dan mati adalah sebuah keniscayaan, tetapi meratapi kematian orang yang sangat kita kasihi sampai merasa hidup kita tidak berharga lagi dan ingin cepat mati, justru itulah bentuk kematian yang paling mengerikan, yaitu kematian harapan.
Taqdir adalah keniscayaan abadi, tetapi bahagia atau sengsara akibat suatu takdir, adalah pilihan manusia sendiri. Manusialah yang memilih mahu hidup dengan bahagia, berdamai bersama taqdir atau hidup sengsara dengan memusuhi taqdir. Nabi saw bersabda, “Luar biasa keadaan seorang mukmin, semua hal selalu baik untuk dirinya, dan ini hanya terjadi pada seorang mukmin, apabila dalam kelapangan niscaya ia bersyukur, hal itu menjadi kebaikan baginya, namun bila dalam kesempitan ia bersabar, hal itu pun menjadi kebaikan bagi dirinya.
Tataplah segala hal dengan kacamata iman. Cepat atau lambat kita akan mengerti bahwa “rangkaian peristiwa adalah jala yang ditebarkan Allah untuk menjaring manusia memasuki hadirat SuciNya”. Meleburlah dlm taqdir Allah niscaya engkau akan sampai kepadaNya.
Saudaraku…
Perjalanan hidup kita memperlihatkan ada hal-hal yang bisa kita ubah dan ada pula yang meskipun kita sudah berusaha, namun tetap tidak pula bisa kita ubah. Orang yang sama sekali tidak bisa berhitung misalnya, dapat mahir dan terampil mengolah angka dengan matematika, orang yang sakit bisa sehat karena berobat, orang yang miskin dan menjadi beban orang lain pun bisa menjadi orang yang mandiri melalui kerja keras. Tetapi dapatkah kita menghidupkan kembali orang mati yang sudah menjadi tanah? Mengubah nasi yang sudah menjadi bubur untuk menjadi nasi kembali? Mengubah orang tua renta menjadi bayi kembali? Sebenarnya, kebahagiaan hidup lahir bukan pada kemampuan untuk mebuat hal-hal yang tidak pasti menjadi pasti, tetapi kebahagiaan itu lahir dari benarnya cara pandang, sikap, dan perilaku dalam suasana yang serba tidak pasti.
Kegagalan atau keberhasilan adalah hal lumrah dalam hidup ini. Tetapi berlebih-lebihan menyesali kegagalan dan larut dalam kesedihan justru merupakan satu bentuk kegagalan yang lebih besar lagi, yaitu gagal mengendalikan diri.
Hidup dan mati adalah sebuah keniscayaan, tetapi meratapi kematian orang yang sangat kita kasihi sampai merasa hidup kita tidak berharga lagi dan ingin cepat mati, justru itulah bentuk kematian yang paling mengerikan, yaitu kematian harapan.
Taqdir adalah keniscayaan abadi, tetapi bahagia atau sengsara akibat suatu takdir, adalah pilihan manusia sendiri. Manusialah yang memilih mahu hidup dengan bahagia, berdamai bersama taqdir atau hidup sengsara dengan memusuhi taqdir. Nabi saw bersabda, “Luar biasa keadaan seorang mukmin, semua hal selalu baik untuk dirinya, dan ini hanya terjadi pada seorang mukmin, apabila dalam kelapangan niscaya ia bersyukur, hal itu menjadi kebaikan baginya, namun bila dalam kesempitan ia bersabar, hal itu pun menjadi kebaikan bagi dirinya.
Tataplah segala hal dengan kacamata iman. Cepat atau lambat kita akan mengerti bahwa “rangkaian peristiwa adalah jala yang ditebarkan Allah untuk menjaring manusia memasuki hadirat SuciNya”. Meleburlah dlm taqdir Allah niscaya engkau akan sampai kepadaNya.

0 komentar:
Poskan Komentar
TERIMAKASIH KE ATAS KUNJUNGAN ANDA
SILA TINGGALKAN KOMENTAR DI SINI