Posts

Perspektif Lain tentang Fitnah dan Bala

menurut sebagian ahli, perbuatan menghasut, menghibah, dan menuduh itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan. Agaknya, pendapat ini tidak tepat sebab... Tindakan represif menolak datangnya bala tidak perlu dilakukan, tidak perlu lagi upacara-upacara dan doa tolak bala, tetapi bagaimanapun manusia memang perlu tindakan prefentif agar bala tidak menggoyahkan imannya. Perspektif Lain tentang Fitnah dan Balak Al-Quran sebagai sumber ajaran agama Islam diwahyukan dengan menggunakan bahasa Arab. Sebagian kata dari bahasa Arab itu telah terserap ke dalam bahasa umat Islam di Nusantara, namun tidak sedikit di antara kita yang telah keliru dalam memahaminya, sehingga mengakibatkan kekeliruan dalam memahami pesan ajaran agamanya. Kata fitnah dan bala adalah di antara istilah serapan yang dimaksud. Fitnah dan Bala dalam budaya Nusantara Kata fitnah di Nusantara berarti umpatan, gunjing, gujirak, celaan, hujat, dan tuduhan jahat yang diada-adakan/dibuat-buat. Jadi, fitnah di sini berm...

Cinta Sang Sufi: Pesona Cinta Rabiah al-Adawiyah

Terlalu tingginya kecintaan Rabi`ah terhadap Allah mengesankan ada pengabaian atas janji, surga dan ancaman neraka, sebagai motivasi pengabdi. Cinta tanpa pamrih ini, tak pelak menimbulkan revolusi rohaniyah pada masa sesudahnya. Dan masih jarang tulisan yang mencoba untuk mengkritisi dengan penalaran yang jernih untuk kembali ke mahabbah `aqliyyah dari `athifiyyah Rabi`ah sering jadi rujukan melalui konsepsi mahabbah-nya, sebagai masa transisi dari konsepsi sebelumnya (khawf, takut dan rajaa’, harapan). Prosesnya via purgativa (penyucian hati) ke via kontemplativa (perenungan dengan berzikir) lantas via illuminativa (tersingkapnya tabir penyekat alam ghaib), sebagai tempat dia diberkahi cinta dan kearifan, yang akan diakhiri dengan union mystica. Terlalu tingginya kecintaan Rabi`ah terhadap Allah mengesankan ada pengabaian atas janji, surga dan ancaman neraka, sebagai motivasi pengabdi. Cinta tanpa pamrih ini, tak pelak menimbulkan revolusi rohaniyah pada masa sesudahnya. Dan masih ja...

Penalaran Akal dalam Prespektif al-Juwaini

Al-Juwaini yakin dengan dalil-dalil yang berdasarkan akal. Ia memandang dalil akal (al-adillah al-aqliyah) itu mutlak. Bahkan, menurut sebagian ahli, keyakinan al-Juwaini terhadap dalil-dalil pikiran itu merupakan suatu keyakinan yang membuatnya tampak tidak perlu bersandar pada syara’ sepanjang dalil-dalil tersebut akan dapat menuntun dan membawa kepada apa yang ingin dicapai. Al-Juwaini tentang Penalaran Akal dan Kritiknya terhadap Mu’tazilah: Suatu Corak Pembelaan Teologis Para ahli mencatat, bahwa Imam al-Haramain al-Juwaini menjadi tokoh yang penting karena berkiprah di antara dua masa: masa Asy’ariyah klasik dan masa “modern” dalam aliran Ibn Khaldun. Maka dapatlah dimengerti bila ia, al-Juwaini, lalu tampil memberi landasan-landasan penalaran yang kukuh bagi pemikiran-pemikiran Asy’ariyah klasik yang sedang memasuki suatu era “modern”. Dengan kiprah pemikiran-pemikirannya tersebut terhapuslah anggapan, bahwa kaum Asy’ariyah meletakkan akal pada posisi yang sangat lemah; se...

Selayang Pandang tentang Makrifat

Secara etimologi, ma’rifah berarti pengetahuan atau pengenalan. Sedangkan dalam istilah sufi, ma’rifah itu diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati (qalbu). Pengetahuan itu sedemikian lengkap dan jelas sehingga jiwanya merasa satu dengan yang diketahuinya itu. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi di dalam kitabnya al-Luma’ mengatakan bahwa ma’rifah itu merupakan pengenalan hati terhadap obyek-obyek yang menjadi sasarannya. Inilah, menurut al-Gazali, pengetahuan yang meyakinkan dan merupakan pengetahuan yang hakiki. Untuk memperoleh pengetahuan yang meyakinkan tentang segala sesuatu, pertama-tama kata al-Gazali, haruslah diketahui arti pengetahuan atau ilmu yang benar dan meyakinkan itu. Dalam kitabnya al-Munqiz, al-Gazali mengatakan: “Al-’Ilm Al-Yaqini (ilmu yang meyakinkan) ialah tersingkapnya sesuatu dengan jelas, sehingga tak ada lagi ruangan untuk ragu-ragu, tak mungkin salah atau keliru, tak ada di hati tempat untuk itu.” Sebagai contoh kata al-Gazali: “Jika kuketahu...

Hakikat Makrifat al-Ghazali & Dampak Psikologis bagi Kehidupan

Makrifat, sebagai pengetahuan yang hakiki dan meyakinkan, menurut al-Gazali, tidak didapat lewat pengalaman inderawi, juga tidak dicapai lewat penalaran rasional, tetapi lewat kemurnian qalbu yang mendapat ilham atau limpahan n­ur dari Tuhan sebagai pengalaman sufistik. Di sini, tersingkap segala realitas yang tidak dapat ditangkap oleh indera dan tidak terjangkau oleh akal (rasio). Teori pengetahuan kasyfiy atau ‘irfaniy yang tidak menekankan peran indera dan rasio dipandang telah ikut melemahkan semangat seseorang untuk bergelimang dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Orang lari dari dunia nyata yang obyektif ke dunia gaib yang tidak dapat ditangkap oleh indera dan nalar. Orang lebih mementingkan kebahagiaan diri sendiri daripada kebahagiaan dan keselamatan umat manusia. Karenanya, orang lebih tertarik pada sikap hidup isolatif daripada sikap hidup partisipatif. Sikap hidup seperti ini berakibat pada banyaknya persoalan kemanusiaan tidak terurus yang sebenarnya menjadi tugas man...