Posts

Sufisme vs Rezim Syariah di Kalimantan

  Hubungan ulama syariat dan ulama hakikat atau dikenal sebagai Komunitas Abulung di Kalimantan Selatan, sepanjang sejarah hampir selalu konflik. Namun pada saat ini salah satu Komunitas Abulung yakni Komunitas Abulung Takisung telah berhasil menghindari konflik dengan rezim syariat melalui siasat-siasat yang cerdas sehingga ia dengan tenang bisa terus mempertahankan dan mengembangkan eksistensi ajarannya tanpa ada gangguan dan perasaan terancam. 1. Mengenal Syekh Abdul Hamid Abulung dan Ajarannya Abulung sebenarnya nama sebuah kampung di daerah Martapura, Kalimantan Selatan, bertetangga dengan kampung Dalam Pagar, tetapi kemudian nama tersebut dilekatkan juga pada Syekh Abdul Hamid menjadi Syekh Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung (ada juga yang menyebut Habulung dan Ambulung). Mungkin karena ia lahir di kampung ini, atau bisa jadi ia menyebarkan ajarannya berbasis di daerah ini. Yang jelas sampai sekarang kuburannya berada cukup megah di kampung Abulung ini, dan banyak dizi...

Nur Muhammad dan Pangestu

Di Indonesia, khususnya di pulau Jawa konsep Nur Muhammad telah masuk dan mempengaruhi alam pemikiran mistik jawa. Hal ini sebagaimana dapat ditemukan dalam ajaran beberapa aliran kebatinan Jawa, antaranya yang paling popular adalah Pangestu. Pangestu singkatan dari ”Paguyuban Ngesti Tunggal”, yang bererti ”Persatuan untuk dapat bertunggal”. [1] Didirikan pada tarikh 20 Mei 1949, di Surakarta. [2] Tetapi ajaran Pangestu, seperti yang diuraikan di dalam Serat Sasangka Jati, sudah diwahyukan pada tarikh 14 Februari 1932 kepada R. Soenarto Mertowerdojo di rumahnya, di Widuran, Surakarta. [3] Sabda yang diwahyukan melalui R. Soenarto itu seterusnya dicatat dan dihimpun oleh 2 orang asistennya iaitu Tumenggung Hardjoprakoso dan R. Trihardono Sumodihardjo, hingga menjadi Serat Sasangka Jati. [4] Serat Sasangka Jati ini berbeza dengan Wahyu Sasangka Jati. Menurut Dr. Sumantri Hardjoprakoso, wahyu Sasangka Jati adalah sama dengan Wahyu Ilahi. Wahyu Sasangka Jati tidak berupa apa-apa, tid...

Utamakan Akhlak daripada Fikih

"Menyikapi dualisme paradigma berpikir yang kontradiktif itu, dalam kasus salat dan akhlak, lebih baik yang akhlaknya bagus sekalipun salatnya buruk, ketimbang salatnya bagus tapi akhlaknya buruk. Dalilnya: satu, karena sebaik apapun salat kita akan terhapus pahalanya oleh akhlak yang buruk. Haji juga begitu. Sekalipun ia dijalankan sebaik-baiknya, malah mungkin setiap tahun, kalau di dalam pelaksanaannya ada rafats, fusûq, dan jidâl, hajinya tidak sah. “Faman faradla fî hinnal hajja falâ rafatsa walâ fusûqa walâ jidâla fil hajj,“ Itu dalil Alqur’annya." Salah satu perkembangan memprihatinkan di masyarakat Islam Indonesia belakangan ini adalah makin kuatnya kecenderungan meninggalkan akhlak ketika menghadapi perbedaan dalam paham keagamaan. Menghadapi keprihatinan itu, Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, menguraikan dengan gamblang apa yang semestinya dilakukan oleh masyarakat Islam. Definisi Akhlak Menurut Kang Jalal, akhlak sebenarnya...

Belajar dari Hikayat Nostalgik NU vs Muhammadiyah

persoalan ”remeh temeh” fiqh khilafiyah furu’iyah itu kini telah masuk dalam kotak sejarah. Orang yang membukanya kembali—biasanya generasi tua—akan langsung mendapat stigma ”manusia purba” yang sedang membolak-balik fosil berkarat, uzur, tidak kreatif apalagi inovatif, dan menghabiskan energi dengan sia-sia. Dulu pada tahun 1950-an kata orang-orang tua, kalau ada orang Muhammadiyah yang hendak menjual hewan, orang NU tidak mau membelinya. Ketika orang NU menyembelih hewan untuk selamatan dan tetangganya yang Muhammadiyah dikirimi, biasanya mereka menerimanya tetapi tidak mau memakannya. Pada masa yang berbeda juga terjadi suasana satu sama lain saling membid’ahkan. Masing-masing seolah-olah berlomba, berteriak di depan corong langgarnya, menghamburkan sejumlah ayat al-Qur’an, hadis, dan qaul ulama sebagai hujjah dengan semangat untuk tidak mengatakan mengkafirkan—lawannya—yang dianggapnya telah menyimpang dari Islam, terkontaminasi muatan budaya lokal yang sarat tahayul bid’ah khur...

Antara Sufisme, Kekayaan, dan Kemiskinan.

Kang Jalal, dalam Islam Alternatif, membangun sebuah hipotesis bahwa makin terbenam orang dalam pekerjaan intelektual, makin rindu ia kepada kehangatan mistikisme. Kegersangan rasionalisme malahan mendorong orang untuk mencari keseimbangan dengan menghadirkan sufisme. Sufisme lahir akibat kekayaan. Proposisi bahwa sufisme lahir akibat kekayaan dapat ditunjang dengan melihat kecenderungan orang-orang yang berada dalam affluenct society untuk menyenangi kehidupan mistik. Di Amerika, kini mistikisme bahkan sudah mulai memasuki masyarakat ilmiah. Kelompok ilmuwan terkadang bertukar pikiran dengan kelompok-kelompok mistik, dan para psikolog mulai berbicara tentang altered states of consiousnes. Sebuah buku yang bagus sekali menggambarkan kecenderungan mistikisme di Amerika telah terbit, dengan judul The Aquarian Conspiracy. Mistikisme justru lebih subur pada masyarakat kaya, dan bukan pada masyarakat miskin. Dalam sejarah Islam disebutkan, bahwa sufisme tumbuh subur pada masa kejayaan...