Posts

Tragedi Ambulung: Manipulasi Kuasa atas Agama

Oleh : Humaidy Pada acara bedah kitab Risalah Tuhfatur Raghibin karya Syekh Muhammad Arsyad Al- Banjari (Alias Datu Kalampayan) dan Durrun Nafis karya Syekh Muhammad Nafis Al- Banjari oleh Pusat Pengkajian Islam Kalimantan (PPIK) 6 Juni 2002 lalu, di IAIN Antasari Banjarmasin, terlontar dalam forum (dipelopori oleh Abdurrahman SH.MH, yang sekarang salah seorang personil Hakim Agung) untuk melakukan advokasi (pembelaan) in ab sentia atau tepatnya advokasi imajiner terhadap Datu Abulung (Habulung, Ambulung atau Syekh Abdul Hamid) yang menurut cacatan sejarah dianggap telah bersalah dan kemudian dihukum mati oleh kesultanan Banjar, konon atas fatwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan), gara-gara ia dianggap mengajarkan doktrin tasawuf menyesatkan atau dalam istilah Banjar menyebarkan ilmu sabuku yang dianggap bisa mengakibatkan orang menjadi bid’ah, sesat, zindiq dan kafir. Pembelaan cukup heroik tersebut berdasarkan argumen, pertama, ajaran Islam sangat melarang antar sesa...

Sufisme vs Rezim Syariah di Kalimantan

  Hubungan ulama syariat dan ulama hakikat atau dikenal sebagai Komunitas Abulung di Kalimantan Selatan, sepanjang sejarah hampir selalu konflik. Namun pada saat ini salah satu Komunitas Abulung yakni Komunitas Abulung Takisung telah berhasil menghindari konflik dengan rezim syariat melalui siasat-siasat yang cerdas sehingga ia dengan tenang bisa terus mempertahankan dan mengembangkan eksistensi ajarannya tanpa ada gangguan dan perasaan terancam. 1. Mengenal Syekh Abdul Hamid Abulung dan Ajarannya Abulung sebenarnya nama sebuah kampung di daerah Martapura, Kalimantan Selatan, bertetangga dengan kampung Dalam Pagar, tetapi kemudian nama tersebut dilekatkan juga pada Syekh Abdul Hamid menjadi Syekh Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung (ada juga yang menyebut Habulung dan Ambulung). Mungkin karena ia lahir di kampung ini, atau bisa jadi ia menyebarkan ajarannya berbasis di daerah ini. Yang jelas sampai sekarang kuburannya berada cukup megah di kampung Abulung ini, dan banyak dizi...

Nur Muhammad dan Pangestu

Di Indonesia, khususnya di pulau Jawa konsep Nur Muhammad telah masuk dan mempengaruhi alam pemikiran mistik jawa. Hal ini sebagaimana dapat ditemukan dalam ajaran beberapa aliran kebatinan Jawa, antaranya yang paling popular adalah Pangestu. Pangestu singkatan dari ”Paguyuban Ngesti Tunggal”, yang bererti ”Persatuan untuk dapat bertunggal”. [1] Didirikan pada tarikh 20 Mei 1949, di Surakarta. [2] Tetapi ajaran Pangestu, seperti yang diuraikan di dalam Serat Sasangka Jati, sudah diwahyukan pada tarikh 14 Februari 1932 kepada R. Soenarto Mertowerdojo di rumahnya, di Widuran, Surakarta. [3] Sabda yang diwahyukan melalui R. Soenarto itu seterusnya dicatat dan dihimpun oleh 2 orang asistennya iaitu Tumenggung Hardjoprakoso dan R. Trihardono Sumodihardjo, hingga menjadi Serat Sasangka Jati. [4] Serat Sasangka Jati ini berbeza dengan Wahyu Sasangka Jati. Menurut Dr. Sumantri Hardjoprakoso, wahyu Sasangka Jati adalah sama dengan Wahyu Ilahi. Wahyu Sasangka Jati tidak berupa apa-apa, tid...