Posts

Anakku...

Anakku... Akal saja belumlah cukup, kita perlu hati, hati yg memiliki nurani, hati yang diterangi oleh Cahaya Ilahi, Cahaya yang dicampakkan kepada para wali dan Nabi, Nurun Nabi, Nur Muhammad. Hati adalah kita yang memilikinya. Ia ada di dalam dada ini dan di dalam hati ini jua nurani kita tersimpan. Namun kita sering melakukan perbuatan yang kita sendiri tahu itu salah. Kita ingkari nurani. Hari ini kita senang terhadap sesuatu, boleh jadi esok kita akan sangat menyesal karena kemarin kenapa kita menyukainya. Maha Besar Tuhan yang berkuasa membolak-balikkan hati kita. Hati sifatnya seperti yang diisyaratkan oleh kata padanannya, ”kalbu” yang artinya ”membalik”—berpotensi untuk berbolak-balik; yaitu di satu saat merasa senang, di saat lain merasa susah; suatu kali mau menerima dan suatu kali menolak. Memang, hati tidak konsisten, kecuali yang mendapat bimbingan Nur, cahaya Ilahi. Adapun bisikan ”kata hati”, tidaklah selalu benar. Karena, kadang-kadang ia merupakan lammah malakiyah (b...

Alquran, Sufisme, dan Ide Spiritual Lain (3/habis)

Sebelum al-Qur’ân turun sebagai wahyu Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW, keadaan masyarakat tempat al-Qur’ân turun sudah memeluk beberapa agama dan/atau kepercayaan. Disamping agama Samawi dengan nabi yang jelas, Yahudi dan Nasrani, juga ada kepercayaan lain, seperti, Shâbi’în dan Majusi, ditambah lagi diantara mereka ada yang tidak bertuhan dan yang bertuhan banyak, yang oleh al-Qur’an disebut Kuffâr dan Musyrikûn. PANDANGAN ALQURAN TENTANG PIHAK LAIN Sebelum al-Qur’ân turun sebagai wahyu Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW, keadaan masyarakat tempat al-Qur’ân turun sudah memeluk beberapa agama dan/atau kepercayaan. Disamping agama Samawi dengan nabi yang jelas, Yahudi dan Nasrani, juga ada kepercayaan lain, seperti, Shâbi’în dan Majusi, ditambah lagi diantara mereka ada yang tidak bertuhan dan yang bertuhan banyak, yang oleh al-Qur’an disebut Kuffâr dan Musyrikûn. Oleh karena itulah al-Qur’ân memberi pedoman yang tergolong rinci. al-Qur’ân memuat istilah-istilah u...

Alquran, Sufisme, dan Ide Spiritual Lain (2)

Di Nusantara, khasnya di Indonesia, tak berlebihan jika ada hipotesa bahawa kejayaan Islam bercokol dengan akar-akar yang menghunjam ke bumi Indonesia adalah hasil perjuangan para pembawa Islam awal yang telah bertungkus-lumus mengahwinkan doktrin dengan budaya dan agama lokal yang pada masa itu telah dianut oleh masyarakat. Upaya mengahwinkan doktrin dengan adat pun dilakukan dengan analogi bahawa adat adalah bejana atau wadah dan doktrin adalah isi bejana. Kedua-duanya menyatu untuk saling memperkuatkan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dikeranakan para pembawa Islam awal ke Indonesia adalah para sufi yang arif dan bijaksan dalam menghadapi budaya, tradisi dan kesenian lokal. HUBUNGAN TASAWUF DENGAN BUDAYA DAN AGAMA LOKAL Peradaban Arab dikenal sebagai peradaban syair dan sastra. Semenjak Arab pra-Islam sampai paska-Islam, syair dan sastra tetap berlanjut dan dipertahankan. Bahkan lebih jauh, syair yang dihasilkan oleh para penyair Arab telah mempengaruhi para sufi. Syair-syai...

Alquran, Sufisme, dan Ide Spiritual Pihak Lain (1)

Al-Qur’ân menamakan dirinya sebagai “petunjuk bagi manusia” (hudan li an-nâs). Oleh karena itu, al-Qur’ân tentu saja memuat segala aspek kehidupan. Salah satunya adalah bagaimana al-Qur’ân menyikapi adanya sebagian umat manusia yang tidak beriman kepada Alqur’an itu sendiri. Hal ini terkait dengan turunnya al-Qur’ân sebagai sumber pertama dan utama agama Islam di tengah-tengah masyarakat yang telah memiliki berbagai agama dan/atau kepercayaan lain. Lebih penting lagi, tentu saja, merupakan petunjuk dan pedoman bagi umat Islam dalam berinteraksi dengan pemeluk agama dan/atau kepercayaan lain; kapan harus bersikap toleran dan kapan harus bersikap tegas. Tulisan ini mencoba mengungkapkan sikap al-Qur’ân terhadap agama dan/atau kepercayaan lain, yang selanjutnya diistilahkan dengan pihak lain, dengan pendekatan tekstual dan kontekstual. Al-Qur’ân menamakan dirinya sebagai “petunjuk bagi manusia” (hudan li an-nâs). Oleh karena itu, al-Qur’ân tentu saja memuat segala aspek kehidupan. Salah ...

Aliran Isyraqi dalam Tasawuf Falsafi

Pendiri aliran ini adalah Abul Futuh Suhrawardi yang lahir pada tahun 549 H/1154 M dan wafat di Aleppo (Syria) pada tahun 587 H/1191 M. Suhrawardi pada usia remajanya selalu berpindah-pindah untuk menuntut ilmu pengetahuan. Ia pergi ke Maraga belajar ilmu fikih dan ilmu kalam dengan Majduddin al-Jili. Dari Maraga ke Ispahan ia belajar ilmu logika dengan Sahlamas Sawi, kemudian ke pelbagai daerah di Iran dan Irak dan Asia Tengah dan perjalanannya berakhir di Alepo ia dijatuhi hukuman mati. Suhrawardi banyak menulis buku yang menggembarkan mode tasawufnya, sehingga karya tulisnya berjumlah 50 judul dalam bahawa Arab dan Persi (Pahlevi), sebegian mengenai filsafat dan sebagian lein mengenai tasawuf. Di antara karya tulisnya yang terpenting “I’tikad al-Hukama” (Keyakinan para Filusuf), “Hayakilu al-Nur” (Bentuk Cahaya), “Bustanu al-Qulub” (Taman Hati), “Risalah al-Mi’raj” (Risalah Mi’raj), “Al-Waridat” (Temuan Hati), “Al-Taqdisaat” (Yang Dimuliakan). Suhrawardi menamakan ajaran tasawufnya ...

Wahdatu al-Syuhud

Dalam buku “Tarikh al-Islam” dikatakan “taswuf Islam berkembang dengan pesat di kalangan kaum muslimin khususnya di kalangan orang-orang Persia yang masuk Islam. Dalam perkembangan yang terakhir, tasawuf Islam berpadu dengan ajaran filsafat sehingga menjadi satu mode tasawuf yang dinamakan filsafat tasawuf”. Filsafat tasawuf yang merupakan perpaduan ajaran filsafat Neo Platonisme dan di pihak lain dengan ajaran filsafat Persia dan India”. Browne dalam bukunya “Literary History of Persia” mengutip ucapan Von Kramer yang mengatakan “jelas ajaran tasawuf menghimpunkan dua unsur ajaran yang berbeda, yang satu dari ajaran hidup zuhud (sederhana) yang diajarkan agama Kristen yang masuk ke dalam Islam semenjak abad pertama kemudian disusul dengan ajaran samedhi Budha yang dibawa oleh orang-orang Persia ke dalam Islam. Ajaran inilah yang sangat mempengaruhi ajaran tasawuf sehingga tasawuf Islam kehilangan kemurniannya”. Maka pada suasana yang seperti ini lahirlah pemikir besar al-Gazali yang...