Posts

Kemahakuasaan Allah: an ihtajaba bila hijab

Saudaraku... Kebahagiaan dunia terwujud apabila hati kita bersukacita karena akan mendapatkan sesuatu yang selama ini kita idam-idamkan. Puncak kebahagiaan muncul apabila sesuatu itu telah nyata di depan mata, menjadi milik kita. Kebahagiaan akhirat yang disebut surga juga demikian adanya. Yaitu perasaan sukacita karena telah bersanding dengan Zat yang selama ini kita cari, yaitu Tuhan yang Maha Kasih, Maha Agung, Maha Sempurna, dan Maha Perkasa. Posisi Tuhan yang teramat dekat memungkinkan kita bisa memandang-Nya secara langsung. Dan, inilah kenikmatan surga yang paling tinggi. Suasana hati yang tenteram dan damai karena terliputi oleh sifat kasih dan sayang-Nya. Sifat dan Zat Tuhan mengatasi segala sesuatu selainnya, sehingga apabila hati kita telah terpikat ke dalam liputan rahman dan rahim-Nya, membuat mata kita buta untuk memandang selain-Nya. Jika Surga adalah keadaan dekat kapada Tuhan, neraka adalah keadaan sebaliknya, yaitu jauh dari Tuhan. Keadaan yang jauh dari asal-usul men...

Antara Sunnah dan Bid'ah

Sunnah dapat diartikan sebagai jalan hidup, kebiasaan baik atau kebiasaan buruk. Sunnah Nabi adalah kebiasaan dalam peri kehidupan Nabi yang senantiasa membuat kebajikan. Kita bisa mengetahui sunnah Nabi dari pemahaman ke atas hadis dan atau akhbar dan cerita sirah nabawiyyah. Jika suatu perbuatan itu disebut sebagai sunnah nabi tentu yang dimaksud adalah tindakan Nabi. Sunnah Nabi selalu bernilai shahih, berbeda dengan hadis karena ia memiliki tingkatan-tingkatan: shahih, hasan, dhaif, dll. Sunnah manusia ada 2, yaitu sunnah hasanah dan sunnah sayyi'ah. Sunnah hasanah adalah kebiasaan perilaku baik, sedangkan sunnah sayyi'ah adalah kebiasaan perilaku buruk. Standart baik atau buruk adalah bersesuaian atau tidak dengan al-Qur'an. Apabila sejalan dengan pesan Qur'an dinamakan sunnah hasanah atau sunnah baik, dan apabila berlawanan dinamakan dengan sunnah sayyi'ah atau sunnah yang buruk. Manakala bid'ah adalah sesuatu yang diadakan, dipaksakan untuk ada padahal t...

Empat Amalan Mengundang Celaka

Empat perkara jika melanda diri seseorang atau satu perkara sahaja dari yang empat tersebut berarti suatu kecelakaan besar. Sabda Rasulullah s.a.w.: من الشقاء أربع: قسوة القلب, وجمود العين, والحرص, وطول الأمل "min al-syaqa' arba': qiswat al-qalb, wa jumud al-‛ayn, wa al-hirs, wa tul al-amal" Termasuk bencana atau kecelakaan adalah empat perkara: 1) kerasnya hati, 2) bekunya mata, 3) serakah, dan 4) panjang angan-angan. (al-hadis aw kama qala) Empat perkara jika melanda diri seseorang atau satu perkara sahaja dari yang empat tersebut berarti suatu kecelakaan besar. Sabda Rasulullah s.a.w.: من الشقاء أربع: قسوة القلب, وجمود العين, والحرص, وطول الأمل "min al-syaqa' arba': qiswat al-qalb, wa jumud al-‛ayn, wa al-hirs, wa tul al-amal" Termasuk bencana atau kecelakaan adalah empat perkara: 1) kerasnya hati, 2) bekunya mata, 3) serakah, dan 4) panjang angan-angan.(al-hadis aw kama qala) Pertama, hati yang keras atau al-qolb al-qasi. Hati yang keras adalah h...

Wahdatul Wujud dalam Perspektif Sufi

Wahdatul wujud perspektif sufi tidak sama dengan filosuf dan orientalis. Menurut filosuf, wahdatul wujud adalah pemahaman bahwa Allah itu adalah alam dan setiap yang wujud ini adalah mazhar kepada hakikat-Nya yang umum ( kulliyah ). (Lihat, Abd al-Mun'im al-Hifni, Al-Mu'jam al-Falsafi , Dar al-Syarqiyyah, Kairo: 1990, hlm. 380. Jamil Saliba, Al-Mu'jam al-Falsafi , Dar al-Kitab al-Lubnani, Beirut: 1973, jilid 2, hlm. 569-570. Wahdatul wujud perspektif sufi tidak sama dengan filosuf dan orientalis. Menurut filosuf, wahdatul wujud adalah pemahaman bahwa Allah itu adalah alam dan setiap yang wujud ini adalah mazhar kepada hakikat-Nya yang umum ( kulliyah ). (Lihat, Abd al-Mun'im al-Hifni, al-Mu'jam al-Falsafi, Dar al-Syarqiyyah, Kairo: 1990, hlm. 380. Jamil Saliba, al-Mu'jam al-Falsafi, Dar al-Kitab al-Lubnani, Beirut: 1973, jilid 2, hlm. 569-570. Manakala wahdatul wujud menurut sufi lahir dari pengamatan mereka yang berterusan terhadap segala tanda-tanda kebesaran ...

Menyadari Sir Allah dalam Diri

Menyedari akan sir atau rahsia Tuhan ada di dalam diri adalah peringkat kemuncak dalam mushāhadah Nur Muhammad. Kesedaran ini disebut juga dengan kesedaran hakikat, iaitu terbukanya pintu makrifatullah. Apabila seorang hamba telah dibukakan pintu makrifatnya maka ia akan mendapatkan ketenangan berupa kenikmatan sinaran rohani yang berlimpah-limpah. Cahaya cinta dan kasih sayang yang membuatkan seorang hamba semakin dekat kepada sumbernya, bahkan masuk dan bermandikan cahaya itu. Cahaya Allah akan memenuhi seluruh lapisan dalam rongga dada, selama manusia berkehendak, mencari dan menemukan-Nya. Kendala yang menghalangi seorang mukmin mendekati Tuhannya adalah dosa dan maksiat, kerana boleh menggelapkan hati senubari. Kebersihan rohani dan kesucian kalbu adalah sesuatu yang paling berharga agar sinar Allah (nûr Allāh) bertahta terus-menerus dalam hati dan jiwa. Antara cara yang ditunjukkan untuk mengekalkan kebersihan rohani dan kesucian kalbu adalah sebagaimana yang disunnahkan oleh Ras...

Simbol Alif Lām Lām Hā' dalam Ilmu Shuhud

Huruf Alif Lam Lam Ha pada kalimat ALLAH adalah symbol yang memiliki makna sangat dalam. Simbol bukan sekadar tanda yang tak memiliki erti. Al-Ghazali dalam kitab Mishkat al-Anwār mengatakan "siapa sahaja yang telah mencapai pemahaman makna di sebalik terma-terma akan mencapai penyingkapan untuk mencerna bahawa idea-idea adalah yang utama, dan terma-terma yang menjadi simbolnya menempati posisi sekunder. Justru terma-terma yang menjadi simbol itulah sumber yang mengadung realiti". Datu Abulung adalah antara yang memiliki jenis pemahaman ini. Dalam Risalah Ilmu Shuhud beliau nampak banyak menyajikan pemaparan dengan melibatkan simbol sekali dengan erti dan maksud tersiratnya. Misal yang paling menonjol adalah simbol dan erti Alif, Lam, Lam, Ha' sebagai akan diterangkan berikut ini. Dikatakan dalam Risalah Ilmu Shuhûd, bahawa sebelum ada alam, Tuhan tak bernama, diistilahkan dengan Lā Ta’ayyun, setelah ada dunia lalu dinamai Allah. Nama Allah yang dalam bahasa Arab terdir...

Puasa Ramadhan dengan Dasar Iman dan Ihtisab

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (صحيح البخارى ,كتاب الإيمان 37) Artinya: (Imam Bukhari berkata) Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Salam, dia berkata mengabarkan kepada kami Muhammad bin Fudhail, dia berkata mengabarkan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Abi Salamah dari Abu Hurairah ra dia berkata: Rasulullah saw bersabda "Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtis±ban (mengharap pahala), maka diampuni oleh Allah baginya dosa-dosa yang terdahulu" (H.R. Bukhari). Penjelasan: Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan magfirah (ampunan) dari Allah. Oleh karena itu para ulama menyambut kedatangan bulan Ramadhan ini dengan mengucapkan "Marhaban ya Ramadhan" (Selamat Datang wahai Bulan ...