Posts

Generasi yang Selamat berkat Rahmat Allah

Diantara fase-fase usia generasi kita yang cukup rawan adalah fase remaja dan pemuda. Remaja dalam usianya yang berada antara anak-anak dan dewasa memiliki problema tersendiri. Secara fisik, remaja masih menuju kematangan organ-organnya, demikian juga secara psikis remaja sering ditandai dengan gejolak emosional yang belum matang. Mereka tidak senang dikatakan sebagai anak-anak, tetapi mereka belum menunjukkan kedewasaan yang ditandai dengan kemampuan berdiri sendiri, mengatasi problema sendiri, bahkan sering membuat problema bagi orang lain, seperti prilaku kenakalan. Ceritera remaja dan pemuda juga terdapat dalam Alquran. Nabi Yusuf, Ashabul Kahfi,   dan putra Nabi Nuh adalah segelintir ceritera remaja dan pemuda yang dibentangkan Allah. Kecuali putra Nabi Nuh, para pemuda tersebut, dengan rahmat Allah mampu melewati ujian-ujian kehidupan yang sangat kritis. 1.             Nabi Yusuf Nabi Yusuf adalah soso...

Sebelum Kematian

Dalam sebuah riwayat disebutkan, orang yang saleh dan memperoleh husnul khatimah adalah mereka yang hati dan bibirnya selalu berzikir mengingat Allah ketika sakaratul maut sampai datangnya malaikat Izrail menjemput ruhnya. Tanda-tanda lain adalah wajahnya tampak tenang, bagaikan orang tidur, tidak menunjukkan rasa takut dan tertekan. Justru sisa senyumnya terlihat di wajahnya, tanda saling sapa antara dirinya dengan Izrail yang datang menjemput, bagaikan calon pengantin wanita yang dijemput untuk dinikahkan dengan calon suaminya yang sudah lama dirindukan. Patut untuk direnungkan, sering terdapat keterkaitan antara tempat dan penyebab kematian seseorang dengan doa yang selalu dipanjatkan ketika sehat dan jauh sebelum kematian tiba. Misalnya, ada seorang dosen yang ingin sekali kalau meninggal disalatkan oleh ramai santri, alhamdulillah, almarhum meninggal di sebuah pondok pesantran besar yang sangat dia banggakan. Soal ruh dan kematian menyisakan misteri yang sukar dijelaskan se...

Sebab Menahan Lapar, Hidup menjadi Sehat

Antara penyebab utama berlakunya akhlak tercela adalah karena perut yang selalu dikenyangkan. Jika perut kenyang, syahwat menguat. Bila syahwat kuat, maka menjadi rakus terhadap harta dan benda, karena nafsu syahwat itu akan mudah disalurkan jika disediakan harta benda. Sedangkan harta benda mudah didapat melalui kedudukan atau jabatan. Ketika nafsu telah mendapatkan harta dan kedudukan, maka tidak lengkap sebelum dihiasi dengan titel PHD ( Perasaan Hasad dan Dengki ) juga sombong, pamer ( riya' ), adigang-adigung , dan penyakit jiwa lainnya. Padahal, jika perut dibiasakan lapar justru dapat menyehatkan jasmani dan rohani. Tidak hairan jika dokter menghimbau para penderita pelbagai penyakit berat agar menurunkan berat badan dengan cara diet yang ketat. Ulama sufi besar, Imam al-Ghazali (1058 M-–1111 M), mengatakan ada 10 manfaat dari menahan lapar, yaitu : 1. Dapat membersihkan hati dan menajamkan mata batin 2. Dapat melembutkan hati sehingga mampu merasakan lezatnya zikir....

Hidup itu seperti rojak

Image
Hmmm... makan cabe saja tentu tidak mahu, krn mak nyoss, pedas di lidah. Asam saja, juga enggan krn ngilu di gigit. Tapi, Makan gula saja, banyak yang suka krn manisnya. Padahal, apabila cabe yg pedas digaul dengan asam dan gula yg manis + dimasinkan dgn sedikit garam, menjadilah rujak yang tentu rasanya lebih nikmat daripada manisnya gula.   Isi dunia ini saling melengkapi. Kenikmatan dunia tidak dapat dirasai tanpa menggaulkan kesempitan dan kelapangan, tanpa meramu kesedihan dengan kesenangan. Nikmat itu ada, sebab adanya pengalaman senang dan susah.  Sesungguhnya, kesenangan yang kita kecap adalah sementara. Kesusahan yang membelit pun fana. Dengan menggaul kedua-duanya membuat hidup kita seimbang. Jiwa kita tak akan dipenuhi kesombongan dan over rasa bangga kala meraih kesuksesan dan mengecap kesenangan. Hati kita pun tidak merasa sempit, putus asa, apalagi rapuh tatkala dirundung musibah dan kegagalan.  Krn sebagian isi dunia ini sekadar...

Hanya Allah

"segala sesuatu itu sifatnya haalikun, rusak, tidak langgeng kecuali satu saja, yaitu Wajah Allah. jadi, jika kt cenderung kpd selain Allah yg haalikun maka tiada artinya kehidupan ini, krn kita telah memilih kehancuran. Tetapi jika kt pilih wajah Allah, yaitu smua aktifitas kt kerahkan lillahi taala, tidak riya, tidak sombong, dll berarti kita telah mengambil pilihan tepat, memasuki keabadian dalam keagungan Wajah-Nya."... Pilih yang mana hayooo... ... Pilih yang mana hayooo...

Hayy bin Yaqzan alias Hidup bin Sadar

Image
Hayy ibn Yaqzan, sebuah fiksi ilmiah (science fiction) dan sekaligus juga merupakan alegori sufi bercorak falsafah. Novel ini dkarang oleh Ibn Tufayl, seorang filosof, ilmuwan, ahli kedokteran dan sastrawan besar Andalusia (Spanyol Arab). Di tengah lautan luas, di pulau terpencil yang tidak terlalu subur, hiduplah seorang anak lelaki bernama Hayy bin Yaqzan alias Urip bin Sadar. Anak itu telah dibuang oleh ibunya ketika masih bayi dengan memasukkan ke dalam sebuah peti dan kemudian menghanyutkan peti itu ke sungai, sehingga Hayy terdampar di pulau Waqwaq yang terpencil itu. Seekor rusa betina merasa kasihan melihat bayi mungil dalam peti itu, dia ingat pada anaknya yang sudah mati beberapa waktu yang lalu. Rusa itu kemudian memelihara Hayy. Hayy bin Yaqzan ternyata tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat, serta dapat bersaing dengan binatang lain dalam berburu binatang kecil untuk santapannya. Namun ketika pikirannya mulai tumbuh, ia sadar betapa besar perbedaan dirinya dengan...

MENGENAL ALLAH

Di dalam kitab Mafatih al-Jinan, Syaikh Abbas al-Qummi menulis sebuah ungkapan doa yang kuranglebih artinya begini:  “Ya Allah, perkenalkanlah daku kepada Diri-Mu, karena bila Engkau tidak memperkenalkanku kepada Diri-Mu, maka bagaimana daku bisa mengenal utusan-Mu. Ya Allah perkenalkanlah daku kepada utusan-Mu agar daku bisa mengenal hujjah-Mu. Ya Allah, perkenalkanlah daku kepada hujjah-Mu agar aku dapat mengenal petunjuk agama-Mu.” Pengenalan kepada Tuhan adalah langkah pertama dan utama dilakukan oleh hamba agar dapat beragama secara benar. Dalam ungkapan doa di atas, setelah memanjatkan permemohon agar dapat mengenal Tuhan, maka pada tahap seterusnya seorang hamba memanjatkan permohonan mengenal utusan (rasul), mengenal hujjah, dan baru mengenal agama kemudian. Hal ini sejalan dengan ungkapan “awaluddin makrifatullah” awal agama ialah mengenal Allah. Mengenal Allah dalam bahasa agama diistilahkan dengan ma’rifah. Secara etimologi, ma’rifah berarti pengetahuan atau...