yang bergabung

Kamis, 08 Januari 2009

Pengertian Ilmu dalam Tasawuf

Ilmu menurut bahasa diartikan dengan pengetahuan dan menurut pakar ushuluddin diartikan dengan pengetahuan yang sesuai dengan realita. Baik menurut bahasa maupun menurut pakar ushuluddin ilmu mempunyai arti yang sangat luas karena mencakup semua ilmu pengetahuan baik yang berhubungan dengan dunia maupun akhirat.

Namun orang shufi mengartikan ilmu lebih sempit lagi yang mencakup ilmu pengetahuan yang diamalkan untuk mencapai keridhaan Allah dengan membersihkan rohani dan membersihkan budi pekerti dari semua sifat yang tercela, menjauhi kemewahan duniawi dan mencontoh kehidupan dan perilaku Rasulullah Saw.
Al-Gazali menulis dalam bukunya ”Ihya Ulumiddin” mempertegas pengertian ilmu dalam rangkaian kata-kata yang sederhana ialah ”thariqul akhirah” yakni jalan menuju kehidupan akhirat. Batasan pengertian ilmu di atas, ia menolak penggunaan kata ilmu untuk pengetahuan yang bukan untuk kesempurnaan kehidupan akhirat. Ilmu menurut orang shufi terbagi menjadi empat macam ilmu ialah ilmu syariat, ilmu thariqat, ilmu hakikat, dan ilmu ma’rifat.
a. Ilmu Syariat. Kata syariat menurut bahasa dapat diartikan dengan jalan yang lempang, halan menuju sumber air, nyata dan jelas dan peraturan. Syariat menurut para fukaha ialah peraturan yang diturunkan Allah kepada para rasul. Maka berdasarkan pengertian ini dapat dikatakan syariat Islam ialah peraturan yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Syariat menurut orang shufi ialah amal-ibadah lahiriyah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.
Orang shufi memandang syariat (iabadah) dari sisi hikmahnya, bukan formalitasnya. Ibadah atau syariat mereka bicarakan dari sisi sasarannya, bukan membicarakan syarat rukunnya, sehingga ibadah yang dilaksanakan dapat memberi bekas pada hati dan perkataan. Karena itu, kelau dilihat uraian ibadah menurut orang shufi tentang shalat, kadangkala ditemui ada syarat dan rukun tambahan dari yang ditetapkan oleh para fukaha. Dalam shalat lebih ditekankan kepada hikmahnya. Dalam praktek mencontoh apa yang pernah diperbuat Rasulullah dan para sahabat. Dalam uraian mereka ada hal-hal yang kecil-kecil, niat diperincikan, doa-doa diperbanyak, sehingga uraian shalat menjadi sedemikian rupa, sehingga orang yang kuat imannya saja yang mampu melaksanakannya.
Begitu juga mereka berbicara tentang puasa, mereka bagi puasa menjadi puasa awam, puasa khawas, dan puasa khawasul khawas. Puasa awam ialah puasa tubuh, puasa khawas ialah puasa tubuh dan perbuatan, dan puasa khawasul khawas ialah puasa tubuh, perbuatan, dan hati yang menurut orang shufi ialah puasa yang sebenarnya. Dengan demikian, ahlul syariat dan orang yang melaksanakan ibadah dengan penuh hikmah dinamakan ahlul hakikat.
b. Ilmu Thariqat. Kata thariqat berasal dari kata “thariq” yang artinya jalan. Cara atau metode. Cara atau metode dalam melakukan ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat, dan tabiin. Misalnya seorang yang mengajar shalat kepada muridnya, ia menunjuk, membimbing dan memperagakan perbuatan shalat, bagaimana mengangkat takbir, bagaimana bentuk niat yang sah, bagaimana melakukan sujud dan ruku’ sehingga ibadah shalat itu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Maka metode atau cara guru dalam membimbing muridnya dinamakan thariqat. Menurut orang shufi semua perintah agama harus dilaksanakan melalui thariqat, tidak cukup hanya keterangan dari Nabi Saw. Kalau tidak dilihat bagaimana cara Rasulullah melaksanakan shalat maka yang melihatnya para sahabat, yang melihat cara shalat sabahat adalah para tabi’in dan seterusnya berlanjut dari satu generasi ke generasi dan akhirnya ditulis oleh para ulama dalam pelbagai kitab-kitab fikih.
Aboe Bakar Aceh menulis dalam bukunya “Pengantar Ilmu Thareqat” menukil ucapan Syekh Najamuddin Kubra dalam bukunya “Jamiatul Auliya” mengatakan syariat itu merupakan uraian tentang ibadah, thariqat merupakan pelaksanaan iabadah, hakikat merupakan kemantapan jiwa dan ma’rifat merupakan tujuan pokok, yakni pengenakan yang sebenar-benarnya kepada Allah.
Al-Qur’an dan Sunnah bukan tidak lengkap, ajaran fikih bukan tidak sempurna, masih diperlukan penjelasan lebih rinci dan bimbingan lebih teratur dan praktis agar pelaksanaan ibadah itu lebih sempurna.
Dalam pengertian ini, arti thariqat masih kabur, karena baru merupakan teori yang mungkin dapat dipergunakan untuk memperdalam syariat sampai kepada hakikat, melalui pelatihan tertentu (maqamat) dan melalui pendidikan jiwa dan akhlak bagi orang yang ingin mencapai kehidupan shufi. Tetapi sesudah abad kelima hijriyah, thariqat mempunyai pengertian lain ialah suatu gerakan yang lengkap untuk memberi latihan-latihan rohani dan jasmani di kalangan umat Islam. Thariqat bertujuan untuk mempertebal iman para pengikutnya sehingga tidak ada yang lebih indah dan yang sangat dicintai dalam hidup ini selain Allah dan Rasul-Nya dan puncak kecintaan melepaskan dan melupakan kepentingan pribadi dan melupakan kemewahan dan kemegahan duniawi seluruhnya.
Dalam mencapai tujuan itu, manusia harus ikhlas dalam beramal, ia berbuat bukan mengharap balasan dari manusia, dan pula pahala dari Allah tetapi semata menunaikan tugas sebagai manusia, yang memang diciptakan untuk berbakti dan beribadah kepada Allah. Di samping itu manusia berusaha menanamkan ingatan (muraqabah) terus-menerus kepada Allah. Dengan melalui ingat kepada Allah, orang akan merasakan bahwa dirinya, segala tindak-tanduknya dilihat, didengar dan diketahui Allah. Dengan demikian timbul rasa takut untuk berbuat sesuatu perbuatan yang tidak diredhai Allah. Dalam hidup ini mereka selalu menghitung-hitung laba rugi amalnya (muhasabah), apakah ternyata amal perbuatan baiknya lebih banyak ia bersyukur kepada Allah dan apabila kurang ia lebih giat lagi beramal kebajikan. Dalam melaksanakan semua itu, nafsu keinginan adalah menjadi penghalang utama dalam menuju tujuan terakhir. Oleh karena itu, bagaimana agar manusia dapat melepaskan dirinya dari ikatan ini, ikatan apa juapun yang selalu merintanginya dalam mencapai tujuan. Jadi dalam melepaskan diri dari semua ikatan nafsu dan agar terbentuk peribadi yang bebas dari ikatan manusia harus menanamkan rasa rindu (isyq) yang tidak terbatas kepada Allah dan mencintai-Nya (hubb) sehingga kecintaannya kepada Allah melebihi cintanya kepada alam yang ada di sekitarnya.
Aboe Bakar Aceh menulis dalam bukunya “Pengantar Ilmu Thareqat” menyebut pokok ajaran thareqat ada lima:
(a) Mempelajari ilmu pengetahuan yang bersangkut paut dengan pelaksanaan macam-macam ibadah,
(b) Mendampingi guru dan teman se tariqat untuk melihat bagaimana cara melakukan suatu ibadah
(c) Meninggalkan segala macam rukhsah (keringanan dan ta’wil untuk menjaga kesempatan beramal.
(d) Menjaga dan mempergunakan waktu serta mengisinya dengan wirid dan doa guna mempertebal khusyu’ dan hudur hati hanya mengingat Allah.
(e) Mengekang diri jangan sampai keluar mengikuti hawa nafsu dan supaya diri itu terjaga dari kesalahan.
Di dalam ajaran thareqat harus ada syekh atau mursyid yang memberi petunjuk mengenai latihan-latihan dalam melaksanakan zikir, wirid dan doa, dalam melakukan latihan lidah dan hati, dalam mengikis penyakit jiwa (amradul qulub) dengan segala caranya melalui hidup menyendiri dalam kesepian (khalwat) seperti senantiasa diam, menahan lapar, menetapkan ingatan hanya kepada Allah (tawajjuh). Syekh atau mursyid harus mempunyai silsilah pengambilan suatu thareqat sampai kepada pendirinya dan kepada Nabi Muhammad Saw serta harus mempunyai syarat-syarat tertentu. Hal ini tujuannya adalah agar terpelihara pemurnian ajaran suatu thareqat dan terpelihara dari pemalsuan. Di samping silsilah, seorang mursyad baru dianggap cukup untuk mengajar apabila telah mempunyai ijazah (perizinan) dari syek yang di atasnya. Ijazah ini biasanya merupakan sepucuk surat keterangan yang memberikan kekuasaan kepadanya untuk selanjutnya mengajar thareqat itu kepada orang lain. Untuk mengetahui apakah thareqat itu mu’tabarah (sah) atau tidak, dapat dikenal melalui dua syarat di atas ialah silsilah dan ijazah dan di samping itu, tujuan thareqat itu sendiri yang tidak menyimpang dari ajaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Karena itu, Junaidi al-Bagdadi berkata: semua thariqat itu tidak ada faedahnya bagi manusia jika tidak mengikuti sunnah rasul.
c. Ilmu Hakikat. Perkataan hakikat berasal dari kata haqq yang artinya kebenaran. Karena itu, ilmu hakekat adalah ilmu untuk mencapai kebenaran. Menurut orang shufi hakikat itu baru akan didapat sesudah memperoleh ma’rifat dan telah menjalani thareqat. Oleh karena itu, yang mula-mula mencari sesuatu dengan ilmunya (ilmu yakin), kemudian baru sampai kepada keyakinan akal dan jiwa atau juga dinamakan ainul yakin maka baru sampai ke hakkul yakin (keyakinan yang sebenarnya). Hakkul yakin hanya dapat dicapai di dalam fana, yaitu sesudah melalui dua tahap, ilmu yakin dan ainul yakin. Demikian apabila thareqat dijalankan dengan segenap kesungguhan dan setia memegang syaratnya akhirnya bertemu dengan hakikat.
Dalam perjalanan thareqat mula-mula yang dicapai kasyaf yaitu terbuka hijab yang selalu menutupi hubungan manusia dengan Tuhannya. Hijab yang memisahkan manusia dengan Tuhan adalah hawa nafsu dan kebendaan ini maka untuk menyingkap tabir hijab itulah gunanya tajarrud (melepaskan ikatan diri) dan apabila rohani telah sampai ke tingkat kesempurnaan tunduklah jasmani kepada kehendak rohani.
Qusyairi menerangkan perbedaan antara syariat dan hakikat yaitu bahwa syariat itu adalah kesungguhan dalam ubudiyah sedang hakikat itu adalah musyahadah rububiyah atau melihat rububiyah dengan mata hati. Dalam thareqat orang memperbaiki ibadah dan dalam hakikat orang memperhalus kehidupan dalam maqamat dan ahwal.
Hakikat menurut orang shufi ada beberapa macam: Pertama yang dinamakan hakikat tasawuf ialah usaha-usaha untuk memutuskan syahwat dan meninggalkan dunia dengan segala keindahannya serta menarik diri dari kebiasaan duniawi. Kedua yang dinamakan hakikat ma’rifat yang tidak lain mengenal asma’ dan sifat Allah dengan sungguh-sungguh dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam setiap suasana.
Menurut Aboe Bakar Aceh dalam bukunya “Pengantar Ilmu Thareqat” ma’rifat itu ada dua macam: pertama ma’rifat hak dan kedua ma’rifat wahdaniat (ke-Esaan) Allah. Allah Yang Maha Esa sebagaimana yang dipahami makhluknya melalui Asma’ dan Sifat Allah, sedang ma’rifat hakikat tidak dapat dicapai oleh manusia karena tidak ada ilmu pengetahuan yang dapat memperjelas hakikat Allah (Kunhu Zat). Ketiga yang dinamakan hakikat al-hakaik. Hakikat ini merupakan puncak dari segala hakikat ialah yang termasuk martabat ahadiyah yakni perhimpunan segala hakikat. Oleh karena itu, dinamakan juga hadratul wujud. Ada lagi pembagian lain hakikat ini; hakikat muraqabah ialah kewaspadaan seorang dalam memandang Tuhan dengan pandangan itu terjadilah dalam sir (perasaan) bahwa Allah selalu mengawasi segala gerak geriknya dan hatinya. Hakikat muhasabah terhadap Tuhan ialah senantiasa memperhitungkan segala amal yang diperbuatnya dari sisi untung dan ruginya dan selalu berusaha menutup kerugian itu dengan memperlipatgandakan amal kebajikannya. Hakikat wilayah ialah menyerahkan seluruh hidupnya kedalam pemeliharaan Tuhan dan perlindungan-Nya. Dan hakikat iradah ialah menempatkan iradahnya (kehendak-Nya) ke dalam iradah Allah dengan demikian hatinya tergerak dalam mencari Tuhan. Menurut orang Shufi yang dimaksud dengan murid ialah orang yang telah mempunyai keinginan yang lahir dari dirinya dan yang dimaksud dengan murad ialah orang yang hanya mempunyai satu iradat (kehendak) ialah hanya Tuhan semata.
Orang shufi mengatakan bahwa dalam tingkat fana atau dalam keadaan lenyap segala rasa, barulah ia memperoleh ma’rifah (mengenal) Allah dengan mata hatinya dan memperoleh pengenalan sampai ketingkat hakul yakin. Karena dengan itulah tersingkap tabir yang selalu menutupi (kasyful mahjub) yang membatasi antara manusia dengan Tuhan.
Menurut Aboe Bakar Aceh fana menurut orang shufi ada tiga tingkatan: pertama, fana af’al (perbuatan) ialah keyakinan yang tertanam dalam jiwanya bahwa yang sebenarnya berbuat (hakiki) adalah Allah, kedua fana sifat ialah dalam keyakinan bahwa yang mempunyai sifat yang maha sempurna hanya Allah, dan ketiga, fana zat ialah pandangan dan keyakinan bahwa yang sebenar-benarnya ada yang tidak berawal dan berakhir hanya Allah.
Orang shufi mengumpamakan hubungan syariat, thariqat dan hakikat seperti sampan itulah syariat, thareqat seperti lautan, dan hakikat seperti mutiara. Siapa yang menginginkan mencari mutiara maka ia harus naik kedalam sampan dan berlayar kelaut sehingga ia akan berhasil memperoleh mutiara. Dalam ungkapan lain bahwa syariat itu engkau sembah akan Allah yakni engkau mengikut perintah Allah menjauh diri dari melanggar larangan Allah dan thareqat engkau sahaja (tuntut) Allah dengan ilmu dan amal, yaitu apa yang engkau ketahui dan hakikat itu yaitu faedah dari keduanya yaitu engkau pandang Allah dengan cahaya yang dipertaruhkan Allah dalam hatimu.
HAMKA menulis dalam bukunya “Tasawuf dari Abad ke Abad” mengatakan orang sudah sampai ke tingkat hakikat, pendiriannya terpecah menjadi tiga; sebagiannya timbul pendirian Hulul yaitu roh ketuhanan masuk ke dalam tubuh manusia sehingga menjadi satu kesatuan antara manusia dan Tuhan. Pendirian yang melahirkan pengakuan Aku seperti yang pernah diucapkan al-Hallaj. Sebagian lagi yang berpendirian Wahdatul Wujud yaitu zat manusia bersatu dengan zat Tuhan karena manusia itu sendiri merupakan bagian dari zat Tuhan seperti yang diucapkan oleh Ibnu Arabi. Karena pendirian seperti itulah timbul pertikaian yang hebat antara ulama fikih dan ulama sufi. Ulama fikih sangat menentang pendirian itu dengan alasan menyalahi ajaran Islam karena Tuhan adalah pencipta (Khalik) sedang manusia adalah yang diciptakan (makhluk) tidak mungkin sama antara manusia yang diciptakan dengan yang menciptakan. Al-Gazali mengetengahi kedua kelompok itu dengan mengatakan Hulul tidak mungkin, ittihad (bersatu) juga tidak mungkin dan yang mungkin hanya taqarrub yaitu mendekat diri, Aku adalah makhluk dan Dia adalah Khalik yang lain dari makhluk. Pendirian yang dikemuakakn al-Gazali ini dinamakan wahdatusy Syuhud ialah kesatuan dalam pandangan bukan pada hakikatnya.
(d) Ilmu Ma’rifah. Ma’rifah artinya pengenalan dengan secara yakin dan ia merupakan ujung semua ilmu pengetahuan. Orang yang mempunyai ma’rifah dinamakan “arif” kumpulan pengetahuannya tentang syariat dengan kesetiaannya menempuh hakikat dinamakan ma’rifat. Karena itu dapat dikatakan kumpulan pengetahuan, perasaan, pengalaman, amal ibadah, keindahan, dan kecintaan kepada Allah dinamakan ma’rifat.
Aboe Bakar Aceh dalam bukunya “Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf” mengatakan orang shufi membagi ilmu ma’rifah menjadi dua macam:
(1) Ilmu adna ialah ilmu pengetahuan yang didapat dengan perantaraan belajar seperti membaca dan menulis.
(2) Ilmu Laduni ialah ilmu pengetahuan yang dicapai tidak melalui belajar tetapi semata kurnia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya, baik sebagai orang yang arif, muhakik dan saleh maupun shufi.
Karena itu barangsiapa yang menempuh jalan tasawuf dan telah mempelajari dan mengamalkannya, niscaya ia akan sampai kepada tujuan yaitu, ma’rifah, ilmu ma’rifah dari Allah dan dianugerahkannya kepada orang yang dikehendakinya secara langsung. Menurut orang shufi jalan untuk memperoleh ma’rifah ialah dengan membersihkan jiwanya serta menempuh pendidikan shufi yang mereka namakan maqamat seperti hidup zuhud dan ibadah dan barulah tercapai ma’rifat. Dalam pendidikan shufi ini terdapat pendidikan dasar takhalli yakni membersihkan diri dari sifat yang tercela, tahalli mengisi jiwa dengan sifat yang terpuji yang sudah kosong dari sifat yang tercela dan kemudian tajalli ialah nampak dan jelas baginya kebesaran dan keagungan Tuhan dan terlihatlah segala yang gaib. Pendidikan yang seperti ini diambil dari kisah Isra’ dan Mi’raj. Pertama Jibril membedah dada dan mengeluarkan darah hitam dari dalam hati itulah yang mereka namakan takhalli, kemudian Jibril menuangkan ilmu, yakin dan Islam ke dalam dada Rasulullah itulah yang mereka namakan tahalli dan kemudian Rasulullah dibawa oleh Jibril Isra dan Mi’raj untuk menghadap dan bertemu Allah dan itulah yang mereka namakan tajalli dengan bertemu (liqa) dan melihat (ru’yah) zat Tuhan yang Maha Agung. Pembagian ini menjadi ilmu syariat, thareqat, hakikat dan ma’rifat didasarkan kepada kemampuan manusia, dalam mempelajari dan mengamalkannya, namun menurut mereka semua harus dipelajari.
Hubungan antara syariat dan hakikat menurut orang shufi erat sekali, sehingga lahir dalam ungkapan mereka, ma’rifat seperti buah kelapa, ilmu syariat merupakan bagian kulit luar, ilmu thareqat merupakan isi buah kelapa, hakikat merupakan minyak kelapa yang dicari. Ilmu syariat dan hakikat adalah dua ilmu yang berjalin menjadi satu yang tidak dapat dipisahkan karena itu ilmu syariat merupakan landasan (pondamen) sedang ilmu hakikat merupakan tujuan karena itu orang shufi mengatakan:
الشريعة بلا حقيقة عاطلة والحقيقة بلا شريعة باطلة
Artinya: “syariat tanpa (disertai) dengan hakikat hampa dan hakikat tanpa (disertai) dengan syariat batil”. Syekh Abdul Kadir Jailani berkata:
كل حقيقة لا تؤيدها الشريعة فهي زندقة
Artinya: “setiap hakikat yang tidak dikuatkan dengan syariat maka ia zindik” Junaidi al-Bagdadi berkata:
من تفقه بغير تصوف فقد تفسق ومن تصوف بغير تفقه فقد تزندق ومن جمع بينهما فقد تحقق
Artinya: “Barangsiapa yang belajar fikih tidak mengetahui tasawuf maka fasik, barangsiapa yang belajar tasawuf tanpa belajar fikih maka sesungguhnya ia zindik dan barangsiapa yang belajar kedua-duanya maka sesungguhnya ia yang benar”.

2 komentar:

Mugi Lestari mengatakan...

Assalaamu'alaikum,
Alhamdulillah...
syukron atas penjelasannya, sangat bermanfaat...
Insya Allah, :)

Operator SIMAK-SAKPA mengatakan...

Assalamu'alaikum Wr.Wb
caranya belajar ilmu di atas supaya lbh jelas bagaimana karena saya benar-benar bingung dab benar-benar ingin belajar. terima kasih
wassalamu'alaikum Wr.wb

Poskan Komentar

TERIMAKASIH KE ATAS KUNJUNGAN ANDA
SILA TINGGALKAN KOMENTAR DI SINI

 
Kang Kolis © 2008 All right reserved │ Re Design By R - CH▲M